Senin, 09 April 2012

Corporate Culture & Organization Culture


Corporate Culture & Organization Culture

Budaya perusahaan sejak tiga dekade terakhir menjadi perbincangan di antara pebisnis dan pengamat dunia usaha. Publik bahkan sampai menjadikan budaya korporasi Jepang sebagai anutan.
Maklum saja, publik barat masih tak habis pikir dengan kesuksesan Toyota sebagai korporasi mobil nomor wahid di dunia. Jeffrey K. Liker bahkan menghabiskan waktu 20 tahun intuk membedah filosofi manajemen Toyota.
Sebut juga Bill Capodagli dan Lynn Jackson yang menguliti rahasia manajemen Disney yang unik atau Mark Malseed yang memukau para pemasar lewat kisah sukses mesin pencari Google.
Corporate culture atau budaya perusahaan atau budaya organisasi bukan barang baru namun ‘baru’ didefinisikan dan dipopulerkan pertama kali oleh seorang antropolog bernama Edward B Taylor tahun 1871.
Dalam definisi Taylor, corporate culture adalah sekumpulan pengetahuan, keyakinan, seni,moral, hukum, adat, kapabilitas dan kebiasaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu.
Pendek kata budaya organisasi adalah nilai-nilai dan cara bertindak yang dianut organisasi—beserta anggotanya–dalam hubungan-nya dengan pihak luar. Untuk mencapai taraf budaya organisasi diperlukan waktu yang panjang dalam pertemuan yang intens.
Tidak heran jika tim penulis The Jakarta Consulting Group secara garis besar dalam buku setebal 532 halaman ini menyebut corporate culture merupakan sesuatu yang unik.
Corporate culture adalah sebuah value yang sulit untuk begitu saja diadaptasi dengan cara instan karena akan menyebabkan pertentangan budaya dan kebiasaan karena budaya perusahaan lahir dari sebuah titik pertemuan dari ego masing-masing individu.
Terkadang untuk mencapai sebuah konsepsi way of life organisasi yang kemudian dianut sebagai corporate culture akan membuat beberapa individu terbaik tersingkir.
Sehingga muncullah pertanyaan pentingkah corporate culture? Harvard Business School melakukan studi yang hasilnya mencengangkankan. Perusahaan yang secara aktif mengelola budaya organisasinya memperoleh pemasukan sebesar 682% dibandingkan peningkatan pendapatan sebesar 166% yang diperoleh oleh perusahaan yang tidak mengelola budayanya.
Sementara pendapatan bersih naik 756% bagi perusahaan yang memberi perhatian terhadap budaya dibandingkan hanya 1% peningkatan bagi yang tidak, juga harga sahamnya melambung 901% untuk perusahaan yang secara aktif mengelola budayanya, sementara yang tidak mengelola dengan baik hanya 74%.
Duet editor A.B. Susanto dan Himawan Wijanarko harus diakui berhasil mengarahkan agar tulisan para pemikir The Jakarta Consulting Group jalin menjalin tidak saling mendahului.
Kedua editor membuat buku yang dibagi dalam 14 bab yang setiap babnya bisa dengan mudah dipilah pembacanya tanpa harus berurutan. Artinya pembaca bisa melompat ke bab yang menarik.
Jika ingin mendalami konsep corporate culture bisa memulainya dengan membaca sesuai urutan dari depan untuk kemudian mengatahui perubahan yang terjadi berkat adanya budaya perusahaan itu.
Pembaca juga akan emndapatkan konsep bagaimana mengelola agar budaya organisasi terjadi secara nyaman dan mampu mengikuti perkembangan jaman tanpa harus disebut kuno.
Dengan begitu mendalamnya kajian yang diberikan para penulis The Jakarta Consulting Group, bisa dikatakan buku ini adalah semacam buku babon bagi kajian budaya organisasi yang pantas selalu tersedia di rak para pemegang keputusan di perusahaan Anda.
 Sumber Judul Buku : Corporate Culture & Organization Culture;
A Strategic Management Approach
Editor: A.B. Susanto dan Himawan Wijanarko
Penerbit: The Jakarta Consulting Group, Januari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar